PENJELASAN SYURA DALAM AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Al-Qur’an adalah Landasan Utama Syura ( Musyawarah )

Syura adalah hak seluruh kaum muslimin terhadap khalifah. Karena itu, mereka memiliki hak terhadap khalifah agar dalam banyak persoalan khalifah merujuk kepada mereka untuk meminta pendapat.
Umat Islam di Mekkah adalah umat yang tertekan dan bahkan terusir. Akan tetapi, dari merekalah Al-Qur’an membina sebuah masyarakat yang integral dan kukuh, menghimpun umat Islam dalam ikatan persaudaraan dan solidaritas. Itulah iman kepada Allah dan beribadah kepada-Nya, bekerja sama dengan komitmen pada sistem syura, juga saling membantu dalam sektor ekonomi dan dana.
Allah mengagungkan Syura sehingga menjadi nama surat dalam Al-Qur’an, yaitu surat Asy-Syura. Ia termasuk kelompok surat Makiyah, jumlah ayatnya ada lima puluh tiga ayat. Di antaranya ada empat ayat madaniyah, sedangkan ayat lainnya makiyah. Salah satunya adalah ayat yang khusus berbicara tentang musyawarah, yaitu ayat ke-38 di dalamnya Allah berfirman:
           
“ Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.”

Ayat ini bagaikan menyatakan: Dan kenikmatan abadi itu disiapkan juga bagi orang-orang yang benar-benar memenuhi seruan Tuhan mereka dan mereka melaksanakan shalat secara bersinambungan dan sempurna, yakni sesuai rukun serta syaratnya juga dengan khusyu’ kepada Allah, dan semua urusan yang berkaitan dengan masyarakat mereka adalah musyawarah antara mereka yakni mereka memutuskannya melalui musyawarah dan tidak tergesa-gesa dalam memutuskannya, tidak ada di antara mereka yang bersifat otoriter dengan memaksakan pendapatnya; dan disamping itu mereka juga dari sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka baik harta maupun selainnya, mereka senantiasa nafkahkan secara tulus serta bersinambungan baik nafkah wajib maupun sunnah.
Kata (  ) syura terambil dari kata syaur. Kata syura bermakna mengambil dan mengeluarkan pendapat yang terbaik dengan memperhadapkan satu pendapat dengan pendapat yang lain. Kata ini terambil dari kalimat syirtu al-‘asal yang bermakna: saya mengeluarkan madu ( dari wadahnya ). Ini berarti mempersamakan pendapat yang terbaik dengan madu, dan bermusyawarah adalah upaya meraih madu itu dimanapun dia ditemukan, atau dengan kata lain, pendapat siapa pun yang dinilai benar tanpa mempertimbangkan siapa yang menyampaikannya.
Kata (  ) amrahum/urusan mereka menunjukkan bahwa yang mereka musyawarahkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan urusan mereka serta yang berada dalam wewenang mereka. Karena itu masalah ibadah mahdhah/ murni yang sepenuhnya berada dalam wewenang Allah tidaklah termasuk hal-hal yang dapat dimusyawarahkan. Di sisi lain, mereka yang tidak berwewenang dalam urusan dimaksud, tidaklah perlu terlibat dalam musyawarah itu, kecuali jika diajak oleh yang berwenang, karena boleh jadi yang mereka musyawarahkan adalah persoalan rahasia antar mereka.
Al-Qur’an tidak menjelaskan bagaimana bentuk syura yang dianjurkannya. Ini untuk memberikan kesempatan kepada setiap masyarakat menyusun bentuk syura yang mereka inginkan sesuai dengan perkembangan dan ciri masyarakat masing-masing
Adapun surat yang lain tentang syura, terdapat di ayat ke-159 surat Ali Imran, Allah berfirman:
                              •    
Artinya:
“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Salah satu yang menjadi penekanan dalam pokok ayat ini adalah perintah melakukan musyawarah dan ayat ini menunjukkan keharusan mempergunakan Ijtihad walaupun dihadapan Nabi, Ijtihad ini menjadi kuat dengan jalan musyawarah. Dalam perang Uhud Rasulullah tidak mengelakkan bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang siasat lebih baik, apakah menanti musuh memasuki Madinah atau menghadapi mereka di luar kota. Maka oleh suara terbanyak diputuskan memilih siasat yang terakhir. Kesalahan yang dilakukan setelah musyawarah tidak sebesar kesalahan yang dilakukan tanpa musyawarah, dan kebenaran yang diraih sendirian, tidak sebaik kebenaran yang diraih bersama.
Pada ayat ini, disebutkan tiga sifat dan sikap secara berurutan disebut dan diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk beliau laksanakan dalam bermusyawarah. a.) sikap lemah lembut, yaitu seseorang yang melakukan musyawarah, apalagi sebagai pemimpin, harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak mitra musyawarah akan bertebaran pergi. b.) memberi maaf dan membuka lembaran baru. Ini perlu karena tiada musyawarah tanpa pihak lain, sedangkan kecerahan pikiran hanya hadir bersamaan dengan sirnanya kekeruhan hati. c.) Permohonan maghfirah dan ampunan Ilahi.
Penyebutan ketiga hal itu walaupun dari segi konteks turunnya ayat, mempunyai makna tersendiri yang berkaitan dengan perang uhud. Namun, dari segi pelaksanaan dan esensi musyawarah, ia perlu menghiasi diri Nabi SAW dan setiap orang yang melakukan musyawarah. Setelah itu, disebutkan lagi satu sikap yang harus diambil setelah adanya hasil musyawarah dan bulatnya tekad.
Berdasarkan kedua ayat di atas, jelas sekali bahwa perhatian Islam terhadap musyawarah sangat besar. Islam menjadikan syura prinsip utama dalam menyelesaikan masalah sosial, politik dan pemerintahan. Syura merupakan suatu sarana dan cara memberi kesempatan kepada anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan yang bersifat mengikat, baik dalam bentuk peraturan hukum maupun kebijakan politik.
Dua ayat diatas telah mencakup segenap masalah yang berkaitan dengan penerapan prinsip syura dalam Islam, meliputi definisi, cakupan, dan hukum wajibnya. Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Ayat tersebut menunjukkan secara jelas ihwal kekomprehensifan prinsip syura untuk semua sistem masyarakat Islam di berbagai tahapannya, bagaimanapun kondisi dan situasinya, juga bagaimanapun hubungannya dengan masyarakat yang lain. Juga baik ketika jama’ah Muslim minoritas maupun ketika mayoritas dan berkuasa atas suatu negara merdeka.
2. Ayat pertama ditunjukkan kepada segenap umat Islam sebagai individu dalam masyarakat. Ayat itu juga menjelaskan tentang sifat-sifat dan karakteristik khas masyarakat Islam. Sifat utamanya adalah kesatuan dalam akidah dan ibadah, kemudidan kerja sama dalam urusan umum melalui musyawarah dan tukar pandangan, juga saling menopang dalam keuangan, di atas prinsip kebebasan seutuhnya dan kesetaraan yang adil.
3. Sedangkan ayat kedua ditujukan kepada rasulullah setelah beliau mendirikan negara Islam di Madinah di bawah kepemimpinannya. Ayat ini memerintahkan beliau sebagai kepala negara yang tengah berkembang untuk menjadikan musyawarah yang dijadikan tema pembinaan individu masyarakat sebelum didirikannya negara sebagai fondasi yang mengatur hubungan antara pemimpin dan rakyat atau individu masyarakat, hingga sekalipun ia seorang Nabi yang diutus dan menerima wahyu dari langit.
Di dalam Al-Qur’an juga ada disebutkan syura yang membicarakan tentang kesepakatan ( musyawarah ) yang harus ditempuh suami-istri kalau mereka ingin menyapih anak sebelum dua tahun. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 233:
          •                                                   •    •   •     
Artinya:
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menunjukkan bahwa suami istri harus memutuskan permasalahan anak ( termasuk masalah rumah tangga lainnya ) dengan cara-cara musyawarah. Jangan ada pemaksaan kehendak dari satu pihak atas pihak yang lainnya.

Landasan Syura dalam Sunnah

Sunnah Amaliyah

Banyak hadits yang menyuruh dan memperkuat pentingnya bermusyawarah, juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya. Rasulullah SAW, bersabda: “ Minta bantuanlah dalam menyelesaikan permasalahan kalian melalui musyawarah.” “Tidak akan berhasil seorang yang hanya mengikuti pendapatnya sendiri dan tidak ada seorangpun yang akan hancur hanya karena bermusyawarah.”“ sebuah kaum yang bermusyawarah pasti akan mendapatkan petunjuk yang memberi jalan menyelesaikan permasalahannya.””
Rasulullah telah bermusyawarah dengan para sahabatnya pada waktu menghadapi perang Badar tentang penentuan tempat perang, dengan menawarkan idenya untuk menghadang kafilah Musyrikin Quraisy yang kembali dari Syam, ide tersebut diterima dan disepakati oleh para sahabat dengan kata-kata yang meyakinkan. Mereka berkata, “ Ya Rasulullah, sekiranya engkau mengajak kami berjalan menyeberangi lautan yang luas ini, tentu akan kami lakukannya dan sekali-kali tidaklah kami akan bersikap seperti kaum Musa yang berkata kepada Nabinya: “Pergilah engkau bersama Tuhanmu berperang, sedangkan kami akan tetap tinggal disini.” Kami akan berkata kepadamu ya Rasulullah, “Pergilah dan kami akan menyertaimu, berada di depanmu, di sisi kanan kirimu berjuang dan bertempur bersamamu.””
Kitab sirah dan Sunnah Nabi menegaskan bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan syura sebagai salah satu dari perangainya, sehingga Abu Hurairah berkomentar, “Saya belum pernah menyaksikan seorangpun yang lebih banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya selain Rasulullah SAW.”
Sikap praktis paling penting Rasulullah SAW yang menunjukkan wajibnya syura dalam kerangka sistem pemerintahan dan pemilihan para pemimpin adalah, ketika beliau menjelang wafat. Sebagian sahabat mengharapkan beliau memberikan wasiat khilafah, dengan menunjukkan orang yang akan menggantikan kedudukan beliau. Banyak yang meyakini bahwa ketika tidak melakukan itu dimaksudkan agar menjadi lahan musyawarah ihwal persoalan kaum Muslimin, lalu mereka sendiri memilih dengan cara syura. Begitu juga ketika menjelang prang Uhud, ada dua kemungkinan yang dihadapi; bertahan dalam kota Madinah atau berperang diluar kota. Nabi mengadakan musyawarah dengan kaum Muslim untuk menentukan pilihan. Nabi sendiri berpendapat bahwa lebih baik bertahan dalam kota. Tetapi, rupanya mayoritas kaum muslim menghendaki berperang dengan musuh di luar kota.

Sunnah Qauliyah

Dalam Sunnah Qauliyah, terdapat banyak hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW dan mewajibkan musyawarah. Diantaranya adalah:
a. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, dia bertanya kepada Rasulullah SAW., “ Wahai Rasulullah, kalau sesudah engkau kami menghadapi masalah yang tidak dijelaskan Al-Qur’an, tidak juga pernah didengar dari Anda sesuatu pun tentangnya, kami harus bagaimana?” Beliau menjawab, “ Kumpulkanlah ahli ibadah dari umatku, lalu bermusyawarahlah di antara kalian. Janganlah kalian memutuskan berdasarkan pendapat seseorang.”
b. Rasulullah bersabda, “Tidak ada satu kaum pun yang bermusyawarah, kecuali memperoleh petunjuk ke arah urusan yang paling benar.”
c. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa meninggalkan jamaah, dia mati dengan kematian jahiliah.”

_____________________________
Abdul Qadim Zallum, Sistem Pemerintahan Islam ( Cet. III, Al-Izzah, Jakarta Timur, 2002 ) hlm. 268.
Wahid Ahmadi, Arwani Amin, Lc., Pemikiran Politik Kontemporer Al-Ikhwan Al-Muslimun; Studi Analitis, Observatif, dan Dokumentatif ( Cet.I, Era Intermedia, Solo 2003 ) Hlm. 79.
Bahrun Abu bakar, L.C., Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul; Surat Al-Kahfi s.d An-Nas ( Cet.IV, Jilid ke-2, Sinar Baru Algensindo, Bandung 2006 ) hlm. 770.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al- Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an ( Cet. IV, Jilid ke-12, Lentara Hati, Jakarta 2006 ) hlm. 511.
Ibid…hlm. 512.
Ibid.
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Al-bayan; Tafsir Penjelas Al-Qur’anul Karim ( Jilid. I, Edisi ke-2, Cet. I, PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang 2002 ) hlm. 162.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al- Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an ( Cet. VIII, Jilid ke-2, Lentara Hati, Jakarta 2007 ) hlm. 258.
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Maudhu’i atas Perbagai Persoalan Umat ( Cet. III, Mizan, Bandung 1996 ) hlm. 474.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al- Mishbah..Jilid ke-2. hlm. 258.
Nina M. Armando, dkk., Ensiklopedi Islam ( Jilid. VI, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta ) hlm. 330.
Dr. Muhammad iqbal, M. Ag., Fiqh Siyasah; Kontektualisasi Doktrin Politik Islam ( Cet. II, Gaya Media Pratama, Jakarta Selatan, 2007 ) hlm. 185.
Dr. M. Dhiauddin Rais, Teori Politik Islam ( Cet.I, Gema Insani Press, jakarta 2001 ) hlm. 275.
Abdul Qadim Zallum, Sistem…hlm. 268.
H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy., Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier ( Cet. III, PT. Bina Ilmu, Surabaya 2003 ) hlm. 237.
Dr. M. Dhiauddin Rais, Teori… hlm. 275.
Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam ( Cet. II, Mizan, Bandung, 1997 ) hlm. 96

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s